Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Medusa

https://cdn.pixabay.com

Don memandangi gadis di depannya dengan takjub setengah mati.  Kok ada ya perempuan secantik ini bergelantungan naik bus kota? Pikirnya dalam hati masih dengan perasaan tak percaya.  Gadis itu begitu bersih, mulus, terawat dari ujung rambut hingga ujung kaki.  Makhluk yang sempurna.

Perjalanan dari Harmoni hingga Sudirman sama sekali tidak membosankan bagi Don yang jarang sekali naik bus kota.  Hari ini dia memutuskan pergi ke kantor tidak menggunakan mobil karena ingin sekali menikmati suasana berbeda.  Selain itu dia hendak merasakan dengan nyaman bagaimana tidak usah berjuang habis-habisan menembus kemacetan.  Kemewahan yang langka di Jakarta.

Dan keputusannya ternyata membawa hikmah tak terkira.  Bertemu bidadari di atas bus kota yang padat dan berjejal.  Don yang seorang eksekutif muda sebuah perusahaan ternama sekaligus penakluk wanita nomor satu di kantornya seperti kejatuhan isi buah durian.  Lezat tak terkira.

Gadis itu berdiri tepat di depannya yang juga sedang bergelantungan menahan desakan dari penumpang yang naik turun.  Wanginya pun luar biasa.  Memabukkan dalam arti yang sebenarnya.  Hati Don terguncang hebat.  Pandangannya nanar dan berkunang-kunang.  Otaknya bergerak liar. 

Bagaimana cara mengajak gadis ini kencan.  Sebuah momen yang tak pernah disia-siakan oleh pemuda kaya macam Don.

Pucuk dicinta ulampun tiba!  Bus mengerem secara mendadak.  Gadis cantik yang sedang asyik memandangi layar hapenya itu terhuyung-huyung mau jatuh.  Dengan sigap Don menangkap lengannya agar tidak benar-benar terjatuh.

Gadis itu menatap penuh terimakasih kepada Don sambil tersenyum simpul.  Duuhh, Don seperti tersedot angin puting beliung dan tak ingat apa-apa.  Senyum itu sedikit tapi efeknya sangat banyak.  Ini tidak boleh ditunda, tekad Don.

------

“Aku Don.  Mau turun dimana?  Aku di Sudirman.” Don mengangguk sopan.

“Sama. Aku juga,” jawab gadis itu sambil melebarkan senyuman.

Deeggghh!  Senyuman itu berhasil menggelapkan semua logika Don seketika.  Dasar pemuda plaboy yang sangat berpengalaman, perbincangan pun terjadi antara Don dengan gadis yang mengaku bernama Hwa Coa itu.  Don tak peduli tatapan iri beberapa pemuda di sekitarnya dan tatapan jengkel beberapa wanita yang pasti menganggapnya sedang melancarkan rayuan gombal.

Ah, halte Sudirman sudah di depan mata.  Don agak mencelos hatinya.  Tapi dia tak mau menyerah.  Hwa Coa benar-benar terlalu memikat untuk dibiarkan pergi begitu saja.

Sambil menjajari langkah Hwa Coa, Don menawarkan bagaimana kalau mereka singgah minum kopi sebentar di cafe kopi berkelas dunia di kompleks perkantoran depan mereka.  Don bersorak dalam hati!  Hwa Coa tidak menolak.  Mulailah serabut-serabut otaknya menjalin siasat dan rencana.

------

Akhirnya Don dan Hwa Coa duduk berhadapan di sebuah cafe terkenal .  Masing-masing minum segelas kopi sembari meneruskan perbicangan setelah terputus karena harus turun dari bus.

“Kantorku tidak jauh dari sini.  Aku bekerja di brand ternama di dunia.  Ini kartu namaku.  Siapa tahu kita bisa nongkrong bareng lagi lain waktu,” Don menyodorkan kartu nama.

Hwa Coa memperhatikan dengan seksama kartu nama tersebut.  Lalu tertawa ditahan sambil mengatakan permisi mau ke belakang.  Don hanya mengangguk sambil memperhatikan tubuh molek itu dari belakang secara berlebihan.  Siapapun akan bisa melihat betapa menyalanya mata Don saat memelototi tubuh belakang gadis itu.  Don tak peduli.  Dia harus mendapatkan gadis itu dengan segera.  Kalau tidak berhasil, jangan sebut lagi namanya Don.

Hwa Coa kembali tak lama kemudian.  Wajahnya semakin segar karena dipoles lagi dengan tambahan lipstick, perona pipi dan semprotan parfum di sana sini.  Don semakin tak karuan rasa kelelakiannya.

Setelah melanjutkan pembicaraan kesana kemari ditambah dengan rayuan kelas tinggi dari Don, Hwa Coa mengangguk saat Don membisikkan beberapa kalimat di telinganya.  SAL dear...would you?

Don hampir melompat kegirangan kalau saja tidak ingat dia masih di tempat umum.  Dia tak menyangka akan semudah ini membawa gadis itu ke tempat tidur.  Ajaib!

------

Don mencegat taksi yang lalu membawa mereka ke sebuah hotel bintang lima di Jakarta Pusat, setelah sebelumnya Don sudah melakukan online booking untuk reservasi kamar.

Don tak segan menggandeng tangan halus Hwa Coa memasuki lobby hotel megah tersebut.  Prosess check in sangat cepat seperti yang diharapkan oleh Don.  Hwa Coa hanya menurut saja sambil terkikik lirih saat Don dengan sedikit tergesa membawanya masuk lift menuju lantai sepuluh.  Don membayangkan kepuasan seperti nanti yang bisa diperolehnya. 

Setelah memasuki kamar, Hwa Coa meminta ijin untuk mandi terlebih dahulu karena merasa sangat gerah.  Don tidak keberatan.  Apa salahnya dengan mandi beberapa menit.  Toh dia akan bersama bidadari itu selama sehari semalam.  Don semakin kehilangan kontrol.

Sembari menonton televisi luar negeri yang menyiarkan film-film box office terbaru, Don bersiul-siul lirih untuk menenangkan gairahnya yang sangat bergejolak.
Matanya memang mengarah ke layar televisi, namun konsentrasinya selalu tertuju pada pintu kamar mandi.  Kapan ya terbuka, pikiran Don mengembara dengan mesum.

Dan akhirnya!  Pintu kamar mandi terbuka.  Membawa tubuh mulus Hwa Coa keluar dengan hanya mengenakan baju mandi serta handuk yang melilit di kepala.  Wuih, kenapa harus keramas sekarang sih, Don semakin mesum.

Don buru-buru membuka baju atasnya sambil berusaha memeluk Hwa Coa.  Yang mau dipeluk mundur satu langkah sehingga pelukan itu luput.  Don yang sudah dikuasai nafsu tingkat dewa tak sabar lagi.  Direnggutnya baju mandi itu hingga terlepas.  Hwa Coa berdiri tanpa busana di hadapannya.  Sesuai dengan khayalan Don ketika di cafe tadi.  Betul-betul sempurna!

Hwa Coa mundur lagi sambil tersenyum manis tapi menggeleng-gelengkan kepala.  Don yang sudah tidak bisa menguasai diri lompat menubruk gadis cantik seketika.  Akibatnya keduanya terjatuh di lantai empuk kamar bergulingan.

Don ternganga selebar-lebarnya.  Wajah dan tubuh gadis itu tetap cantik menggairahkan namun dia melihat hal paling mengerikan yang pernah disaksikannya secara langsung.  Handuk yang melilit kepala Hwa Coa terlepas akibat pergumulan tadi,  bukan memperlihatkan rambut panjang indah  berkilau gadis itu namun mempertontonkan ular-ular kecil berjumlah puluhan yang mendesis-desis mengancam ke arahnya.

Don berusaha melepaskan pelukan dari tubuh Hwa Coa.  Tapi gadis itu terkekeh panjang sambil mempererat pelukannya kepada Don.  Mendekatkan muka Don ke wajahnya yang cantik.  Bukan untuk mencium atau mencumbu, namun untuk mempermudah ular-ular di kepalanya mematuk wajah dan leher Don sekaligus menghisap darahnya sampai habis.

Don melotot begitu taring ular pertama menancap di lehernya.  Memandang ke wajah cantik Hwa Coa yang sekarang tidak tertawa lagi namun mendesiskan sebuah kata mengerikan.

“Medusa...”

Serapung, 29 Nopember 2017








Posting Komentar

3 Komentar