Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Karena

Gambar oleh Lourdes Γ‘iqueGrentz dari pixabay.com

🌿

"Mak,  berangkat sekolah dulu ya, doain bisa jawab soal ujian dengan benar."

"Hla,  tempo hari kamu jawab benar kog salah semua?"

"Itu gara-gara perintah atau petunjuknya yang tidak benar, Mak."

"Oh ya sudah, semoga lancar ya,  jangan absurd."

"Kalau absurd itu si Alul, Mak."

"Hla kalau kamu?"

"Hajjaaarrr saja!"

"Hloo ya jangan Le, nanti kalau viral, ada kekerasan saat ujian terus piye?"

"Maksudku dikerjakan saja jawab soal,  bukan dipukuli."

"E alah,  ya sudah berangkat sana nanti telat lagi."

"Mak,  temanku Widz kemarin hampir keracunan loh."

"Haduh disuruh berangkat malah cerita. Tapi emak jadi kepo juga. Kenapa dia?"

"Ya kan pas gosok gigi itu,  tiba-tiba mulutnya berbusa. Dia bilang gitu."

"Koplak kau,  itu odol,  kalau gak mau berbusa pake batadent merknya, dijamin. Sudah sana cepetan."

"Mak,  ada lagi yang aneh temanku,  si Elang masak ke musolah pakai sarung."

"Eh kamu apa gak salah sarapan le? Masak pake daster?"

"Ya harusnya mukena,  kan Elangsari,  perempuan."

"Le, ntar gurumu marah kamu telat,  cepetan."

"Mak,  guruku baik,  namanya Ayah Tuah eh julukannya,  aku mau ngenalin sama emak,  kan emak sudah lama jadi singgle fighter."

"Ini ember isinya air, Tong,  kalau gak cepet berangkat bisa basah kamu."

"Ampun dah, baik aku berangkat, tapi nitip ntar siramin tanaman aku ya, tadi belum sempat,  makasih mak,  jangan mendelik."

Akupun mengayuh sepeda ontelku sebelum air di ember mengguyur tubuhku

Emakku emang kece dah kecil mungil tapi kalau sudah keluar tegasnya,  daun akasia depan rumah bisa rontok semua.

Untung belum telat pas masuk gerbang sekolah bel berbunyi. Lari adalah kebiasaanku di sekolah dari pada kena SP guru piket.

Hari ini ujian bahasa Indonesia. Guru bahasa yang aku panggil Ayah Tuah mulai membagikan soal.  Guru satu ini emang oke,  gak pernah marah walau digoda sama muridnya,  apa lagi yang perempuan, hadeeuhh senyam senyum saja.

Kulihat ada soal membuat puisi, hmm sebel aku bukan gak suka tapi gak bisa.  Kulirik bangku sebelahku si Anis lagi serius mengiai semua pertanyaan, kalau bahasa dia jago memang.

"Ssttt." Dia menoleh ke arahku

"Puisi," aku bicara tanpa suara sambil menunjuk nomor ujian

"Males." dia juga bicara tanpa suara sambil mendelik

"Isshhh kejam."

Kulihat Alul depanku sepertinya juga sangat lancar.
Sumua sudah kukerjakan hanya puisi ini yang aku angkat tangan.

Mereka jago semua, Ayah Tuah guru kami yang mengajak belajar lewat biyond blogger Kompasiana,  beliau menyarankan tiap anak punya akun di sana untuk belajar menulis dan mengembangkan literasi,  wajib untuk mengisi nilai bahasa Indonesia.

Aku punya akun hanya membaca dan komen saja,  belum pernah menulis xixixii,  setidaknya Ayah Tuah tahu aku sudah buat akun. Biar nilai tidak nol.

Aku lirik ke sebelah kiri,  ishh Hennie yang baru pindah dari Jerman lancar sekali mengerjakan. Aku lempar kertas kecil ke arahnya. Dia menoleh sejenak lalu membuka kertas itu.

"No." dia hanya mengatakan itu

Apes dah aku.

"Zal,  ada yang bisa bapak bantu?" suara Ayah Tuah menggema dalam ruang sunyi, hingga aku kaget dibuatnya

"He he nganu Pak,  bisa buatin puisi?"

"Tulis saja apa yang kamu lihat,  kamu rasakan atau kamu alami.  Tidak perlu diksi tinggi atau terpaku pada rima,  yang penting enak dibaca saja."

"Oh iya Pak." aduh deg-degkan aku kira mau ditempeleng tadi karena bikin rusuh.

Guru ini pantas aku kenalin ke Emakku dah,  pasti nanti Emak seneng kalau punya suami baik gini. Pikiranku melayang sendiri memuji guru yang baik hati.

Dug! Aku merasakan bangkuku ada yang menendang, aku menoleh,  ternyata Ozy menunjukkan jam padaku.  Mengingatkan waktu ujian akan habis.

Ahh aku tinggal puisi saja muter muter kayak obat nyamuk bakar,  ya sudah aku tulis saja apa adanya.

Pok ame ame
Belalang kupu-kupu
Siang makan nasi
Malam-malam berpuisi

Bel pun berbunyi bertalu-talu, "Tang Ting Tong."

***

"Mak,  sudah malam aku tutup ya warungnya."

"Iya,  ini sudah mulai beresin,  kamu sudah belajar?  Besok masih ujian?"

"Yeah,  aku anak cerdas belajarnya gak perlu lama.  Iya tinggal besok."

"Mak,  tadi dapat salam dari pak guru Ayah Tuah."

"Wuuoott?" kan belum kenal Emak, kog tiba-tiba kirim salam?

"Mmm,  Mak jujur saja sebenarnya kenal kan sama beliau,  tapi Emak pura-pura."

"Yeee, ngarang kamu gak pernah pun Emak tahu."

"Ya sudah kalau malu ngaku gak apa-apa. Biar ntar Pak Guru PM sendiri saja ya ke Emak."

Emakku langsung mendelik, matanya bulat sempurna,  xixixiii, di usianya yang tak lagi muda dimakan waktu dan aktivitas tetap saja terlihat mungil. 😁

"Mak kalau ada temannya kan enak gak sendirian,  ada yang diajak ngobrol dan lain-lain."

"Sudah lah Le,  apa kata takdir saja."

"Ish Emak,  pasti ada ada nih,  wah tinggal tunggu kabar baiknya aku."

***

"Maaakk,  aku pulang."

"Hlo,  baru sejam lalu berangkat."

"Korona, Mak.  Pada diliburkan semua 14 hari."

"Oh,  sepi pastinya ya."

"Enak Mak,  gak macet."

"Tapi kasihan pedagang jajanan di luar sekolah itu."

"Iya,  penghasilaan mereka yang tak seberapa dari jualan. Tapi bagaimana lagi."

"Semoga si Korona segera berlalu. Emak berharap tak menggoyahkan perekonomian Emak."

"Iya Mak,  waspada boleh tapi terlalu takut juga jangan."

"Mak,  boleh lihat hp Emak?"

"Buat apa?"

"Mau ngepoin Emak. gak perlu mendelik Mak. Tau Emakku gini Korona dah takut Mak,  bener."

"Bisa buangkan sampah itu Zal?"

"Baik,  Mak."

"Buangnya tapi di Bentar Gebang ya."

"Ih Emak,  itu ngusir." eh Emak Mendelik lagi. Segera aku pergi membuang sampah sebelum ada yang melayang.

***

Mau bersambung apa tidak nih cerita?




Beranda,  18.03.2020



Posting Komentar

5 Komentar

  1. Aku kasih πŸ‘πŸ‘ karena....

    BalasHapus
  2. Mau bersambung apa tidak nih cerita?

    Sambung donk..πŸ˜‚

    BalasHapus
  3. Lagiiii.... lucuuu...l 🀣🀣🀣🀣

    BalasHapus
  4. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus