Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

”For The Sake of Auld Lang Syne”


                                             Sumber: Bersamadakwah.com


Atiek memasuki kedai kopi dipinggir pantai yang relatif kosong. Tentu saja, kebanyakan orang ingin menyambut tahun baru dengan pesta ramai dan meriah. Namun bagi Atiek, dia hanya ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama kekasihnya.
Atiek memandang sekeliling, melihat Nasrun duduk di kursi favorit mereka. Wajah Nasrun menghadap ke pantai tanpa terhalang oleh apapun, sementara punggungnya menghadap ke arah Atiek. Seperti biasa, Atiek menghampiri dan menutup mata Nasrun dari belakang dengan kedua belah tangannya. 
Itu adalah permainan kecil yang sering dimainkan Atiek bersama kekasihnya, di mana Nasrun akan menebak setiap nama kecuali namanya, dan setiap kali Nasrun dengan sengaja menyebut nama yang salah Atiek akan tertawa sembari mengecup pipinya.

Tapi hari itu, Nasrun tidak lagi menebak-nebak nama dia hanya menyebut satu nama. Atiek. Lalu berbalik menghadapnya.

"Tidak adil", Atiek dengan manja membuat mimik wajah sebal dan mengeluh, menempatkan dirinya di kursi yang berlawanan.

Duduk di kedai kopi sampai jam 12 malam - itulah rencananya.

Mereka menghabiskan berjam-jam tertawa dan mengingat satu persatu semua kenangan indah yang telah mereka lalui bersama. Tapi tiba-tiba Nasrun menghancurkan momentum indah itu dengan kata-katanya.
 "Jadi ini yang terakhir kali. Kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. "
Kata-kata Nasrun membuat senyum Atiek menghilang dan air mata memenuhi matanya. Ini adalah kenyataan yang harus diterima, kenyataan yang mereka berdua sudah tahu,  tetapi pada saat Nasrun mengatakan itu keras-keras, membuatnya semakin menyakitkan. Atiek memegang kedua tangan Nasrun, membiarkan rasa sakit mengalir, dan sedikitpun tidak berusaha untuk mengendalikan air matanya.

Jam terus berdetak. Hanya beberapa menit tersisa untuk tahun lama. Tahun baru yang sebentar lagi
tiba tidak hanya akan mengubah kalender, tetapi juga mengubah halaman besar dalam hidup mereka.

Nasrun akan menikah dua bulan lagi. Bukan dengan dirinya. Tradisi mengharuskan Nasrun menikah dengan wanita pilihan orang tuanya dan kemudian dia akan pergi menjalankan tugas diplomat di Hongkong.

Saat pertama kali Nasrun memberi tahu Atiek satu setengah bulan lalu, sulit baginya menerima kenyataan bahwa di era modern ini masih saja ada ajang perjodohan seperti itu. Sungguh tidak masuk diakal Atiek. Nasrun yang semula mengikrarkan cinta setengah mati kepadanya kini malah dengan mudah mengikuti pilihan orang tuanya.

"Aku akan dibuang dari silsilah keluargaku kalau tidak menerima pilihan mereka!" Begitu penjelasan Nasrun kepada Atiek.

Atiek yang saat itu sangat mencintai Nasrun, tidak ingin pikiran kekasihnya  dibebani oleh dua pilihan sulit antara Atiek atau keluarganya. Dengan hati yang berat Atiek mengalah dan merelakan Nasrun  meninggalkannya untuk wanita lain.

Ketika jarum panjang jam bergeser dan bertemu dengan jarum jam pendek dititik dua belas, mereka berpelukan kemudian memunggungi satu sama lain, mengakhiri tradisi panjang dan mengambil resolusi yang sama sekali baru - tidak akan pernah saling bertemu lagi.
Atiek membiarkan wajahnya dihembus angin. Pandangannya lirih melihat kedai kopi tempat dimana dia selalu menghabiskan malam pergantian tahun bersama Nasrun bertahun-tahun lalu. Tangan kanan Atiek menggendong anak kucing kecil dan yang kirinya menggenggam tangan bocah kecil. Kedua mahluk hidup itu ditemukan Atiek terpisah dari ibunya masing-masing.

Tsunami beberapa waktu lalu telah merenggut nyawa ibu mereka dan telah menyapu bersih kedai kopi itu juga seluruh tempat disekitarnya. Air matanya mengalir deras, hatinya teriris-iris . Atiek membiarkan rasa sakit dihatinya kembali mengalir, dan sedikitpun tidak berusaha mengendalikan air matanya.  
Tapi kali ini air mata  dan rasa sakit itu bukan untuk Nasrun, melainkan sebagai pengiring do'a buat ibu si bocah dan kucing kecil serta para korban lain yang telah dibawa Tsunami kembali kepada Sang Pencipta berikut tanda tanya kepada Sang Khalik, sampai kapan cobaan untuk Negeri ini akan berakhir?
Catatan : Cerpen ini pernah tayang di Kompasiana 01/01/2019 by Widz Stoops

5 komentar untuk "”For The Sake of Auld Lang Syne” "

Warkasa1919 12 Maret 2020 01.21 Hapus Komentar
Negeri ini akan berakhir?

🙄 Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan mungkin memberi cobaan di luar batas kemampuan yang sanggup di pikul oleh hambanya☺️ keren cerpennya mbak👍☺️
Apriani1919 12 Maret 2020 04.35 Hapus Komentar
Akhirnya bisa tayang mba...😁
Budi Susilo 12 Maret 2020 05.12 Hapus Komentar
Haduh..sedih kisahnya
Ayah Tuah 12 Maret 2020 15.09 Hapus Komentar
Aduh, mengharukan
Swarna 13 Maret 2020 19.30 Hapus Komentar
Sesek bacanya

Berlangganan via Email