Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Elegi Uang Gedung Sekolah

Gambar oleh OpenClipart-Vector dari pixabay.com

Dengan berat hati aku menandatangani surat pernyataan bermaterai di hadapan Pak Kumis, seorang pria berkumis lebat, yang sedang tersenyum puas. Aku membalas dengan senyuman kecut, sambil membayangkan konsekuensi kesepakatan, yakni: "kesanggupan untuk membayar uang sumbangan pembangunan gedung sekolah sampai akhir semester nanti".

Anak perempuanku diterima di sekolah paling favorit --tersohor karena kualitas pengajarannya, memiliki program-program ekstrakurikuler beragam-- di kota. Setiap tahun ajaran baru SMP itu menjadi incaran kelompok masyarakat kaya. Dekat dengan balaikota, gedung DPRD, kantor pos, lokasinya mudah dijangkau dari mana-mana, baik dengan angkutan umum maupun kendaraan pribadi. Umumnya siswa diantar menggunakan sepeda motor atau mobil.

Tak heran, pada saat menjelang masuk sekolah dan pulang sekolah kendaraan antar jemput meluap sampai memampatkan jalanan. Deretan sepeda motor matic dan mobil-mobil model mutakhir menyesaki lapangan upacara. Aku hanya memiliki sepeda motor lama yang dipakai antar jemput semata wayang sejak anakku kelas empat SD.

Menjelang kelulusan SD, anakku berkeras hati melanjutkan ke SMP paling favorit itu. Didukung oleh guru-gurunya, ia mendaftarkan diri dan diterima. Ia memang pantas mendapatkannya. Kepandaiannya di atas rata-rata.

Kepandaian yang menurun dariku. Temanku mengatakan, “kepandaian tidak menjamin kekayaanmu". Memang benar sih, temanku itu bukan tipe orang pandai, tetapi smart --cerdik-- memutar uang sehingga ia bisa menempatkan diri sebagai pengusaha sukses di ibukota.

Berbeda denganku. Semua ilmu manajemen yang kupelajari waktu kuliah tidak menolong perusahaan yang telah kubangun dari nol. Bahkan, sekitar empat tahun lalu, tiba pada titik nadir kekuatannya. Aku tidak sanggup lagi mempertahankannya, kecuali dijual.

Temanku itulah yang membelinya, kemudian mengangkat kejayaannya. Dan berhasil! Sedangkan aku? Menopang hidup dari hasil penjualan perusahaan, setelah dikurangi hutang-hutang, selama setahun. 

Tidak memiliki usaha, tidak mempunyai pekerjaan tetap, membuatku susah payah menghidupi keluarga kecilku. Untungnya masih bisa tinggal --tepatnya menumpang-- di rumah orang tua istriku. Aku kurang begitu akrab dengan mertuaku. Bisa jadi karena ada perasaan rendah diri atau tidak bisa menjadi menantu yang dapat dibanggakan. Atau keduanya?

Yang pasti selama ini aku tak pernah punya uang cukup untuk mengongkosi hidup anak istriku. Apalagi membayar uang gedung di SMP favorit. Tetapi aku tidak sampai hati mematahkan semangat belajar anakku. "Kamu jangan pikirkan tentang itu. Biar bapak yang menyelesaikannya. Pokoknya tugasmu adalah belajar yang rajin", tukasku meyakinkan anakku. Ibunya hanya terdiam.

Inilah yang membuatku pusing tujuh keliling. Mau meminjam ke orang tua atau kepada teman-teman, hutangku masih banyak yang belum dilunasi.

Minta pembebasan atau keringanan ke pihak komite sekolah? Mereka tak akan percaya ketika melakukan survey tempat tinggal. Di rumah mertuaku, luas persilnya sekitar lima ratus meter persegi, terparkir mobil SUV terbaru. Aku mengerti pengajuan itu tidak bakal disetujui.

Tujuh setengah juta! Uang gedung SMP paling favorit. Sementara di sekolah negeri lainnya, dibutuhkan tiga sampai tiga setengah juta rupiah, yang juga masih memberatkan dengan kondisi keuanganku sekarang.

Untunglah Wali Kelas, pria berkumis lebat itu, masih memiliki belas kasihan.

"Sekali ini saya mengecualikan. Anak bapak bisa bersekolah di sini, dengan satu syarat. Saya talangi! Tetapi bapak harus menandatangani dokumen ini. Jika sampai akhir semester bapak tidak bisa merealisasikan pembayaran, maka dengan sangat terpaksa putri bapak tidak bisa lanjut pada periode berikutnya", tawaran Wali Kelas itu amat menyejukkan kegalauanku. Setidaknya dalam waktu enam bulan ke depan aku bisa mencari uang tujuh setengah juta rupiah itu.

Paling penting, anak perempuan semata wayang bisa sekolah di tempat yang dia inginkan, sekolah paling favorit di kota.

Dengan segala daya upaya aku memenuhi kebutuhannya, terutama janji kepada Wali Kelas, pria berkumis lebat, untuk mengganti uangnya. Aku sudah melakukan segala cara, namun hasilnya tak seberapa. Jangankan mendapatkan tujuh setengah juta rupiah, malah badanku terasa berantakan.

Aku menyerah. Berharap agar teman yang membeli usahaku bisa meminjamkan uangnya. Atau bertukar dengan apa saja kebisaanku dalam kegiatan usahanya, kalau perlu mencuci piring. Keluh kesah dan pertunjukan belas kasihan membuahkan hasil. Temanku memberikan uang pembangunan gedung, asalkan dalam minggu depan dikembalikan. 

Itu urusan nanti, teka-teki hidup berikutnya. Paling pokok, kelanjutan belajar anakku di sekolah paling favorit itu tidak terputus. Percaya diri, aku menuju sekolah paling favorit itu. Nampak beberapa bendera kuning terpasang di lingkungan sekolah. Aku segera bertanya ke meja guru piket.

"Ada apa bu? Siapakah yang meninggal?".

"Pak Dirman, wali kelas 1A, guru yang sering dipanggil Pak Kumis oleh murid-murid, telah wafat subuh tadi. Murid-murid sebentar lagi akan dipulangkan, karena kepala sekolah beserta semua guru melayat ke rumah duka", ujar guru piket dengan mata sembab.

Pikiranku berkecamuk. Apakah aku mesti berduka atau senang, telah menemukan solusi di atas kemalangan orang lain?

~~Sekian~~

9 komentar untuk "Elegi Uang Gedung Sekolah"

  1. Wiiihhh bagus ceritanya

    Bayar ke ahli warisnya ya
    Entah kapan pokoknya. Hihihiii

    BalasHapus
  2. Bagus. Cerita seperti terjadi hampir di setiap sekolah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tadinya mau ditayangkan di K, tapi di sini ajalah...
      Terimakasih..

      Hapus