Header Atas - Panjang

Header Atas - Panjang

Aku dan Sang Waktu (Lima Waktu)


Dokpri

*
Aku tersentak, menatap seraut wajah yang begitu dingin, datar dan tanpa rasa di depanku. Tidak kutemukan ada rasa sedih maupun gembira disitu.


“Di mana Aku?” Tanyaku pada Sang Waktu.


“Di Lima Waktu.”


Kutatap sesosok tubuh yang mengenakan jubah putih keperakan di depanku, di antara serpihan bayang-bayang diriku, bayang-bayang diri yang semakin lama semakin terlihat memudar, sebelum akhirnya benar-benar menghilang dan berubah bentuk menjadi sosok Sang Waktu yang saat ini tengah berdiri di depanku, sambil terus menatap kedua bola mataku di tempat ini.


Sebelum aku sadar, dengan apa yang baru saja terjadi di tempat ini, kedua mataku sempat melihat diriku sendiri yang tengah duduk menghadap Laptop yang masih menyala di atas meja.


Samar--samar, aku masih sempat melihat diriku yang lainnya itu masih duduk di depan Meja Kerjaku sambil terus mendengarkan suara tembang ‘Lir-ilir’ yang digubah oleh Sunan Kalijaga pada zaman kerajaan Jawa Islam, sebagai sarana dakwah/syiar agama Islam di pulau Jawa pada masa itu. Tembang yang saat ini oleh kelompok kesenian Kyai Kanjeng yang dipimpin oleh seniman & budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun), di aransemen ulang dengan nuansa yang lebih religius dan sakral.


Di dalam kesendirianku, tembang tembang ‘Lir-ilir’ gubahan Emha Ainun Najib (Cak Nun) itu seperti menarik sukmaku, membawanya masuk ke Alam lain. Ke tempat yang terasa begitu asing buatku.


Kutatap Sang Waktu, tak lama setelah diriku yang tadi sempat kulihat tengah duduk di depan meja kerja itu perlahan—lahan menghilang dari pandangan kedua mataku.



**
Kuikuti langkah kaki Sang Waktu. Di antara sayup-sayup suara yang tengah berkumandang. Aku dan Sang Waktu terus berjalan, mendatangi suara yang terdengar pilu dari kejauhan.

Bersama Sang Waktu, Aku terus berjalan, semakin masuk ke dalam pusaran nada-nada kerinduan.


Langkah kaki Aku dan Sang Waktu terhenti. Di ujung sana, kutatap seseorang yang masih terlihat begitu samar di kejauhan.


Di sebelah Sang Waktu, Aku tercekat, ketika menyadari bahwa yang aku lihat ternyata adalah sosok Bilal yang terkenal itu.


Aku berdiri tidak jauh dari sosok yang pernah hidup sekian ratus tahun yang lalu sebelum kelahiranku ke dunia ini. Sosok yang bahkan di dalam mimpi pun aku tidak berani untuk meminta di pertemukan dengannya seperti saat ini. 


Aku baru sepenuhnya sadar tengah berada di Masa Lalu. Tepatnya sesaat sebelum Bilal mengkumandangkan Azan untuk yang terakhir kalinya di tempat ini, tatkala aku melihat sang Khalifah berjalan mendekat ke arahku. Lalu menatap Bilal yang tengah berduka, tanpa menyadari kehadiranku dan Sang Waktu di sebelah Bilal yang tengah menangis pilu.


Sesaat, kudengar suara sang Khalifah meminta Bilal untuk menjadi muadzin kembali.


Di antara Sang Waktu, kulihat Bilal menatap sang Khalifah dengan tatapan pilu.


"Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi," kata Bilal sambil menatap sang Khalifah di depanku.



Kutatap wajah Bilal di sebelahku, ada kesedihan yang begitu mendalam di situ.



Angin bertiup kencang, di tempat Azan ini dulu pernah dikumandangkan, di lima waktu, di sebelah Sang Waktu, di bawah langit yang menghitam, Aku melihat Bilal pergi meninggalkan sang Khalifah di depan Aku dan Sang Waktu.



Kutatap seraut wajah yang begitu dingin, datar dan tanpa rasa di sebelahku. Seraut wajah yang begitu datar, tanpa ada rasa sedih maupun gembira disitu. Kutatap sang Khalifah di depanku. Sebelum akhirnya kedua bola mataku beralih pada sesosok tubuh yang terus berjalan, meninggalkan sang Khalifah, Aku dan Sang Waktu.


Di bawah langit yang menghitam, di antara hembusan angin yang bertiup kencang. Bilal terus berjalan, meninggalkan kota Madinah, tempat di mana sang Khalifah, Aku dan Sang Waktu hanya mampu melihat, tanpa mampu mencegah kepergiannya.



***
“Setelah kepergian Rasulullah. Bilal memutuskan untuk pergi bersama pasukan Fath Islamy, menuju Satyam. Selanjutnya tinggalat di Homs, Syria. Bilal masih larut di dalam kesedihan setelah kepergian Rasulullah.

Hingga di malam yang di berkati, Rasulullah hadir menjumpai di alam mimpi.“Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?" Bilal tersentak bangun dari tidur dan juga kesedihannya. Dan tak lama Bilal melakukan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah.”


Tak lama setelah Sang Waktu menceritakan tentang perjalanan hidupnya, kutatap Bilal yang tengah menangis pilu, di kota yang baru saja di masukinya itu. Di kota Madinah, Kota yang telah sekian tahun lamanya dia tinggalkan. Kulihat air mata Bilal tumpah, mengalir deras, menangis tersedu, tak kuasa menahan kerinduan-nya pada seseorang yang begitu dia kasihi hingga membuatnya kembali ke tempat ini.


Di antara debu yang beterbangan, tak lama, di kejauhan, aku melihat ada dua pemuda yang telah beranjak dewasa turun dari atas Unta, lalu berjalan pelan mendekati Bilal yang saat ini sudah terlihat begitu tua di hadapan mereka.


Di bawah langit yang menghitam, di bawah tiupan angin yang berhembus kencang, di tempat dahulu Aku dan Sang Waktu melihat Bilal meninggalkan sang Khalifah. Saat ini Aku tengah melihat Bilal menangis sesegukan, sambil memeluk kedua anak muda yang baru saja datang menghampirinya. Kedua anak muda yang datang menemui Bilal tak lama setelah mereka mendengar kabar tentang kedatangannya di tempat ini.


"Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan Azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami," salah satu dari dua anak muda itu berbicara sambil menatap ke arah Bilal yang tengah menangis di depannya.

“Dia adalah Hasan dan yang berada di sebelahnya itu adalah Husein,” kata Sang Waktu di sebelahku, seraya menatap wajah pemuda yang baru saja meminta Bilal untuk kembali mengumandangkan Azan itu.


Tak lama kemudian, kulihat sesosok lelaki tua berjubah putih mendatangi Bilal, Hasan dan Husein yang tengah menangis di sebelah Aku dan Sang Waktu.




Siang menjelang sore, di bawah langit yang menghitam, di antara hembusan angin yang bertiup kencang, di kota Madinah, di Kota tempat di mana Aku dan Sang Waktu berada saat ini, Aku melihat pemandangan yang begitu mengharukan di tempat ini.



Umar bin Khattab yang saat ini telah menjadi Khalifah, kulihat menitikan air mata, menatap ke arah Bilal yang tengah memeluk Hasan dan Husein, cucu sahabatnya.

Di bawah langit kota Madinah, di antara antara hembusan angin yang bertiup kencang, di sebelah Sang Waktu, Aku kembali melihat Khalifah Umar bin Khattab, yang saat ini ikut menangis, bersama Bilal dan cucu Rasulullah yang juga tengah menangis bersama-sama, larut di dalam kesedihan, mengenang masa-masa, saat di mana Rasulullah dulu pernah ada di antara mereka.

****

Kutatap seraut wajah yang begitu dingin, datar dan tanpa rasa di sebelahku, saat kudengar suara Khalifah Umar bin Khattab, ikut memohon kepada Bilal, untuk kembali mengumandangkan Azan di tempat ini, meskipun hanya sekali.


Tanpa sadar air mataku menetes, jatuh, membasahi kedua pipi. Di sebelah Sang Waktu, Aku larut di dalam kesedihan. Di pusaran waktu, di Masa Lalu, Aku melihat Bilal memandang pilu wajah Hasan dan Husein secara bergantian, sebelum akhirnya menganggukan kepala pada sang Khalifah, yang masih menangis sesegukan di depan Aku dan Sang Waktu.


Di antara angin yang bertiup kencang. Di sebelah Sang Waktu, Aku melihat Bilal terus berjalan, menaiki tempat di mana dahulu dia biasa mengumandangkan Azan. Di bawah langit kota Madinah yang tengah menghitam, Aku melihat dan mendengarkan Bilal kembali mengumandangkan Azan.




Dan ketika lafadz “Allahu Akbar” itu dikumandangkan, mendadak seluruh kota Madinah menjadi senyap. Segala aktifitas saat ini terhenti.


Suara yang telah hilang bertahun-tahun lamanya itu kini telah kembali.


Di sebelah Sang Waktu, di lima waktu, tanpa terasa bahuku terguncang-guncang, tatkala ikut merasakan suara yang begitu merindukan Rasulullah itu kini telah kembali terdengar merdu di tempat ini.


Ketika Bilal meneriakkan kata “Asyhadu an laa ilaha illallah”  kulihat seluruh penduduk kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak mendatanginya. Di kejauhan, kulihat para gadis yang tengah berada di dalam pingitan pun saat ini ikut berlari keluar dari dalam pingitannya, mendatangi Bilal yang saat ini tengah mengkumandangkan Azan di Lima Waktu.

Di sebelah Sang Waktu, saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah” tangisku ikut pecah bersama penduduk kota Madinah yang saat ini juga tengah menangis dan meratap pilu, teringat akan masa-masa indah bersama Rasulullah dulu.

Di lima waktu, di sebelah Sang Waktu, Umar bin Khattab tak kuasa menahan tangisnya, tatkala kembali terkenang masa-masa ketika masih bersama Rasulullah dulu.

Di bawah langit yang menghitam, di sebelah Umar bin Khattab, di tempat yang oleh Sang Waktu di beri nama Lima Waktu, Aku menjadi saksi, saat lidah Bilal tercekat, dan tak lagi sanggup meneruskan Azan-nya kembali di tempat ini.


Di antara hembusan angin yang bertiup kencang, di antara suara tangisan penduduk kota Madinah yang kembali pecah, hari ini Aku dan Sang Waktu menjadi saksi, saat penduduk Kota yang di berkahi ini menangis pilu, mengenang masa-masa di mana Rasulullah masih ada bersama mereka dulu.
Dan dari Sang Waktu, aku tahu, ini adalah hari di mana Azan pertama dan terakhir Bilal di kota ini. Setelah Rasulullah tidak lagi ada bersama mereka di tempat ini.

Dan di Lima Waktu, nama lain dari kota yang di berkahi, perlahan tapi pasti, setelah sesaat ikut merasakan kesedihan penduduk kota Madinah ini, pakaian coklat muda yang biasa aku kenakan dan sudah terlihat begitu kumal itu tiba-tiba saja terlihat lebih bersih dan seperti kembali menjadi baru lagi. 

Dan bersama Sang Waktu, Aku terus berjalan meninggalkan Bilal dan penduduk kota Madinah yang masih larut di dalam kesedihan, meninggalkan Masa Lalu, melewati Masa Kini dan terus berjalan menuju ke Masa Depan.



Selesai



Catatan: Cerita ini hanya fiktif belaka. Mohon dimaafkan jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
 




Posting Komentar

10 Komentar